Menulis Bukan Sekedar Muntahkan Kata-Kata
Ketika berhadapan dengan kertas dan pulpen dulu saya selalu ingin segera memuntahkan kata- kata. Apalagi ada perasaan kesal, marah, dongkol yang teraduk menjadi satu. Sepertinya tinta pulpen itu ingin kulajukan untuk menulis apa saja supaya segera tumpah ruah perasaan itu dalam baris tulisan di secarik kertas. Itu ungkapan awal ketika menulis sudah menajdi sahabat kala duka, kala patah hati dan kala kecewa. Tetapi apakah menulis itu cepat hadir hanya karena marah, dongkol dan perasan lain yang membuat ingin menumpahkan segera. Kini menulis bukan sekedar ingin menumpahkan kata- kata. Saya ingin menulis adalah sebuah ritual, seperti halnya makan, seperti halnya minum. Banyak ide yang berbaris dalam semua suasana. Saat gembira bisa saja mengungkapkan sebuah lontaran pemikiran membantu mereka yang tengah sedih dengan membuat tips- tips bagaimana tetap bergembira meskipun sedang menanggung duka. Kala sedih lebih laju lagi, tulisan menjadi lebih dramatis mengungkap sebuah rasa tentang p...