Cinta pertamaku " Sepak Bola "
Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Aku,anak bungsu dari 4 bersaudara. Aku harus mengakui belum begitu banyak mengalami jatuh cinta. Pernah aku merasa apa itu cinta sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. Tapi kata orang, itu namanya cinta monyet. Entah yang disebut monyet itu aku atau dia hehehe.
Lain soal dengan cinta pertama. Kalau ada orang yang bertanya padaku "Van, siapa cinta pertamaku?" Dengan tegas aku menjawab; "Sepak bola" Ya aku mempunyai banyak pengalaman "Cinta" dengan si kulit bundar ini. Sewaktu sekolah dasar aku pernah di tekel oleh teman pas tepat di mata kaki bagian kananku. Sakitnya luar biasa. Akibatnya selama satu Minggu kakiku di perban. Aku pun terpaksa tidak bisa masuk sekolah. Dan yang membuatku sedih, aku tidak bisa bermain sepak bola.
Masih di sekolah dasar. Kecintaanku pada sepak bola membuatku menceploskan bola ke gawang sendiri alias gol bunuh diri. Mungkin di saat itu aku tidak tega melihat lawan mencetak gol ke gawang ku dengan ikhlas ya aku mencetaknya sendiri ke gawangku., Baikan diriku heheheh. Tapi setelah pertandingan berakhir, aku langsung menjadi bahan makian teman-teman sekelasku. Tobat... Tobat
Kecintaanku pada sepak bola semakin memuncak pada saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kala itu ada seleksi pemain kabupaten Manggarai anatara SMP untuk mengikuti piala gubernur di ibu kota provinsi NTT.
Hatiku sangat gembira mendengar kabar ini di saat itu saya dan kawan- kawan mengikuti seleksi tersebut dengan serius dan disiplin. Dan pada akhirnya semua pemain yang mengikuti seleksi mendengar nama- nama yang berhak mengikuti piala gubernur, pada situasi ini saya sangat takut dan sedikit cemas. Setelah sepuluh pemain telah di baca, nama saya belum juga di baca, saya sudah mulai cemas dan gelisa. Pada pemain yang kelima belas nama teman saya di panggil, tetapi nama saya belum juga di panggil, sya sudah mulai menyerah dan sangat gelisa, ternyata pada angka yang 18 nama saya di panggil dan berhak mengikuti piala gubernur. Saya sangat bangga dan senang. Pada saat itu saya di izinkan oleh orang tua dan sekolah untuk mengikuti pertandingan tersebut. Pada saat keberangkatan ke Kupang kami sangat senang dan bangga. Sesampainya di sana kami menginap di hotel yang bagus dan fasilitas yang lengkap, di situ saya berpikir bahwa di saat itu saya sangat istimewa, dan sangat bangga.
Pertandingan perdana kami melawan kabupaten belu, kami sangat siap melawan mereka dan kami yaki menang.
Kami bermain melawan mereka pukul 12.00 situasi di saat itu sangat panas dan kami sangat kelemahan di daerah panas, tetapi kami tetap semangat dan tidak putus asa. Kami melakoni pertandingan tersebut babak pertama kami mengalami kesulitan di mana salah satu dari teman kami mendapat kartu merah dan kami harus bermain dengan 10 pemain, tetapi kami unggul 1- 0 dari team lawan. Pada saat babak ke-2 kami mendapatkan gol dari lawan poin menjadi 1-1 kami sangat gelisa dan semuanya sangat ragu. Pada menit ke 86 teman kami mencetak gol yang ke dan poin menjadi 2-1 di saat itu semuanya semangat. Pada tiupan panjang kami sangat senang dan bahagia di mana saat itu kami menang.
Setelah pertandingan kami langsung pulang ke hotel.
Dan pertandingan ke 2 kami melawan kota Kupang yang menjadi tuan rumah.
Semuanya sangat ragu, karena mereka menjadi tuan rumah.
Di saat pertandingan berlangsung menit ke 30an saya mengalami cedera, kaki kanan saya di tendang oleh lawan dan bengkak. Sya di gantikan oleh teman saya yang bernama Cristo. Di saat itu semua sangat gelisa di mana kami kalah dari tuan rumah tersebut dengan poin 1-0 kami semua menangis dan sangat kecewa. Kami harus pulang dengan kekalahan. Tetapi semua official mensuport kami Agar kami tetap semangat.
Di bangku SMA bakat saya sangat menonjol saya banyak di pakai oleh team- team kuat di kabupaten saya.
Saya di pakai dan di bayar . Di saat itu ada senior saya bertanya tentang cinta.
"Evan, siapa sih cinta pertamamu?" Yang dengan terus terang menjawab " Sepak bola" senior saya sangat terharu, di saat bangku SMA sya sangat konsen dengan bakat saya sampai- sampai saya menipu mama saya ke sekolah ternyata tidak, di dalam tas saya terisi baju bola, sepatu bola dan yang lain. Saya juga mendapat gelar pemain terbaik di saat bermain di Anam . Saya sangat bangga dan bahagia. Saya juga pernah beberapa kali membawa nama kabupaten dalam mengikuti turnamen besar di provinsi.
Sampai ke perguruan tinggi sekarang bakat saya tidak pernah pudar. Saya tetap bermain seperti biasanya. Tetapi sya sudah mendapatkan cinta ke dua saya dan saya sudah menyampingi bakat saya karena sya sudah masuk di mana saya harus benar- benar sekolah.
Inilah sepenggal kisah cinta pertamaku pada sepak bola mulai dari SD sampai pada perguruan tinggi. Ada suka ada duka. Tetapi Walaupun begitu aku tetap mencintai sepak bola sebagimana aku mencintai diriku sendiri.

Komentar
Posting Komentar